Secangkir kopi

Image

Pagi ini masih sama dengan pagi kemarin. Langit yang sama, awan yang sama, dan tentu saja aroma kopi yang sama. Harum kopi yang selalu tercium dari cangkir. Harum kopi yang selalu kunanti tiap pagi. Harum kopi yang berarti menghadirkan sosokmu. Sosok yang baru ku kenal, tapi serasa berabad lamanya mengenalmu.

Pukul tujuh pagi. Itu dentangan waktu yang selalu kuingat ketika dirimu mulai keluar dari rumah menuju teras bersama secangkir kopi, dan tak lupa koran pagi. Setiap hari aku hanya dapat memandangmu. Memandang keagungan Tuhan. Bagaimana tidak? Kamu tercipta begitu sempurna. Atau mungkin hanya aku yang menganggapmu demikian. Aku rasa perempuan-perempuan lain pun akan sependapat denganku jika mereka melihatmu. Tapi aku berharap, hanya aku yang dapat melihat kesempurnaanmu itu.

Satu teguk kopi mengalir kedalam tubuhmu. Satu teguk yang mengalirkan kehangatan. Bukan hanya dirimu, tapi aku pun merasakan kehangatan itu. Kehangatan yang menyatu bersama hangatnya pagi ini. Kehangatan yang tak pernah terlewatkan olehku.

Dan teguk terakhir kau selesaikan pagi ini. Itu berarti teguk dimana kamu akan segera berlari mengikuti ritme sang waktu. Dan aku, harus menunggumu esok pagi lagi. Menanti dirimu dan secangkir kopi. Seandainya aku bisa meminta pada Tuhan agar aku bisa lebih lama melihatmu sambil menikmati harum kopimu. Karena aku tahu, sebentar lagi aku akan layu, jatuh melayang ke tanah. Karena aku tahu, aku hanya sekuntum bunga di kebun rumahmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s