Kisah Kasih Pak Sopir

Setiap kali saya naik taksi seringkali saya mendapat cerita-cerita dari bapak sopir (karena saya belum pernah mendapat sopir taksi perempuan). Entah cerita tentang dirinya, keluarga, maupun para penumpangnya. Semua saya nikmati selama perjalanan yang tidak pernah lama. Satu cerita yang akan saya ceritakan mungkin terkesan sinetron banget, tapi itu yang bapak sopir taksi (sebut saja Ade) ceritakan kepada saya.

Pagi itu saya baru turun dari kereta yang membawa saya dari Purwakarta ke Semarang. Untuk menuju ke tempat tujuan dan mengejar waktu, saya lebih memilih naik taksi. Didalam taksi cerita pak Ade dimulai. Awal basa-basi karena kami terjebak macet di lalu lintas pagi hari, pak Ade bertanya pada saya mengenai dimana saya tinggal, dan saya jawab Purwakarta. Tapi pak Ade mengira saya tinggal di Purwokerto Jawa Tengah. Setelah saya jelaskan bahwa Purwakarta berada di Jawa Barat, pak Ade tiba-tiba teringat dengan pacarnya dahulu yang orang Sunda.

 “pacar saya dulu orang sunda mbak…orang Bandung”, katanya

“orangnya cantik, baik..ya pokoknya tipe saya bangetlah”

 Saya takzim mendengarkan, dengan sesekali mengatakan “mmmm atau oohhh”, sebagai tanda bahwa saya mendengarkan ceritanya.

 “tapi sayang, bapaknya nggak merestui kami karena bapaknya religius banget, kalau ibunya sih terserah anaknya”.

“akhirnya saya memutuskan untuk tidak bersama dia, saya memutuskan menikah dengan orang lain,tapi dia nggak mbak…dia memilih buat nunggu saya, tapi buat apa ya mbak…”

“dia kenal sama istri saya, jadi ya sering sms-an ke nomor istri saya”.

“Satu hal yang dia tidak tahu sampai sekarang mbak…istri saya sudah meninggal, dan sekarang kalau dia sms sebenarnya ya sms-an sama saya. tapi saya nggak pernah ngasih tahu, biar aja begini mbak…biar dia nggak ngarepin saya”

 Lalu saya tergelitik untuk bertanya, “padahal kan sekarang justru waktu buat bapak bisa bersama, lalu yang menghalangi apa pak?”

 Pak Ade menjawab, “kalau mau dipaksain bisa aja mbak..tapi kasian dia nantinya”.

“Kalau dia menikah dengan saya, keluarga besarnya pasti akan berbeda sikapnya terutama saat Lebaran, karena hari raya kami berbeda…kan malah lebih kasian nanti di dia- nya mbak…

 Itulah sepenggal cerita dari bapak Ade. Bahwa cinta berarti melepaskan. Bahwa ketika bersama atau tidak, ketika diucapkan atau tidak, cinta tetaplah cinta tidak berubah maknanya, tinggal sudut pandang dan cara kita memaknainya.

Dan tulisan dari Rahne Putri ini buatnya:

 Aku ingin membuat tali simpul antara benang kehidupan kamu dan aku

Mungkin aku akan memilih warna merah

Benang itu akan selalu ada dan terbentang

Kita akan beriringan

Bahu kita akan selalu bersebelahan

Namun…..

Aku teringat, cinta itu segitiga

Aku, kamu, Tuhan

Aku bersujud, kamu berlutut

Doa kita sedang berada di lintasan

Jika waktu tidak mempertemukannya,

Terima kasih telah menyebut namaku

Dan aku akan mengukir bayanganmu di bias mata

Dan selanjutnya, biarkan Tuhan melukis kita

Entah di kanvas yang sama, atau tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s