istana pasir

istana pasir

Masih dengan istana pasirku, kuingat kembali tahun pertama aku mengenalnya. Dia laki-laki yang berada di cafe tempatku biasa menghabiskan jam istirahat kantor. Laki-laki tegap dengan senyum ramahnya yang tiba-tiba mendekati kursi tempatku duduk.

“hai” sapanya, “sendiri aja, boleh gabung?”

“silakan”, jawabku

“ray”, dia sebut nama sambil mengulurkan tangannya

“anggi”, kusebut namaku sabil menjabat tangannya

Lalu sisa waktu, kami habiskan untuk bercerita. Sebenarnya lebih banyak dia yang bercerita, mulai dari pekerjaan, karir hingga bagaimana dia bisa sampai ke kota ini. Sebenarnya aku tidak mengerti, kenapa lelaki ini tiba-tiba bercerita banyak tentang dirinya padahal baru mengenalku.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari dimana kami sering bertemu dan bercerita tentang kehidupan kami. Cafe tempat kami pertama bertemu menjadi tempat pertemuan kami berikutnya. Dia laki-laki yang perhatian. Sejauh ini itulah penilaianku terhadapnya. Hampir setiap hari dia mengirimkan pesan atau menelponku hanya untuk menanyakan hal-hal yang menurutku sepele. Aku merasa hariku kini berwarna sejak ada dia. Entah apa yang aku rasakan, tapi sapaannya selalu kunanti. Mungkin benih-benih cinta mulai tumbuh dalam hatiku. Dan dua bulan setelah pertemuan kami, ungkapan cintanya kusambut baik.

Hingga hal itu terjadi. Hari itu minggu sore, aku pergi ke sebuah mall untuk berbelanja. Disana aku melihat seorang laki-laki yang sepertinya aku kenal. Dengan dada yang terus berdegub aku menyapanya.

“hai”, sapaku

“eh hai”, jawabnya

Dengan suara gugup dia berkata “kenalkan  i iini istriku sinta, dan anakku lea”

Wanita yang bernama sinta segera mengulurkan tangan untuk berjabat tangan denganku. Aku jabat tangannya dengan degub jantung yang semakin bergemuruh.

Sejak hari itu, aku berusaha menghindari dia. Tapi dia masih saja berusaha menghubungi aku dan meminta maaf padaku.

“anggi, izinkan aku bicara. Aku minta maaf jika aku ga pernah terus terang. Tapi sejak pertama melihatmu di cafe itu aku mulai mengagumimu. Dan cinta itu tumbuh begitu saja”

Cinta. Haruskah aku percaya pada cinta, jika itu sekali lagi membuat aku terluka.

Dan hari ini, di pantai ini bersama istana pasir, aku mulai menyadari bahwa kebersamaanku dan ray adalah istana pasir yang kubangun dalam hatiku.

“ibu, istana pasirnya udah jadi” , teriak tyo anakku. Dialah alasanku untuk tetap kuat menjalani hari-hariku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s